Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

Saturday, March 1, 2014

Alasan Orang Bule Lebih Banyak ke Luar Negeri


Pelancong bule? Biasa saja. Pelancong Indonesia? Hebat sekali..


Travelling. Ya, satu kata yang mungkin diinginkan oleh hampir semua orang. Siapa yang tidak mau jalan-jalan ke tempat-tempat wisata ataupun keluar negeri? Bahkan sebagian orang pun bela-belain untuk jadi wakil rakyat dan keliling dunia dengan alasan dinas ataupun studi banding memakai uang negara, bersama seluruh anggota keluarga mereka jika perlu.

Beruntunglah orang-orang yang memiliki pekerjaan yang menuntut mereka untuk bepergian jauh. Namun, bagi para pekerja non jalan-jalan atau pun non pekerja (mahasiswa misalnya) butuh usaha lebih untuk malekaukan kegiatan travelling ini. Minimal mereka harus mencari waktu libur panjang, ditambah cuti dengan cara membujuk atasannya supaya mengijinkan mereka. Bahkan ada pula yang berbohong sedang sakit atau urusan keluarga agar mendapatkan cuti. Lalu, yang menurut saya paling utama adalah usaha untuk mencari dana jalan-jalan ini. Jadi, untuk para traveller yang berkebangsaan Indonesia, menurut saya waktu dan uang adalah kendala utama.

Berbeda halnya dengan para pelancong dari negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Saya lihat banyak sekali dari mereka bertamasya keliling dunia. Banyak diantara mereka saya jumpai di tempat-tempat wisata tanah air tanpa dibebani tuntutan pekerjaan. Ya, banyak dari mereka melancong jauh tanpa beban, hanya ingin bermain. Nampaknya waktu dan uang tidak menjadi suatu masalah bagi mereka.

Hasil obrolan ringan dari bule-bule tersebut memang seperti yang sudah dibahas sebelumnya, masalah uang dan waktu.

Ternyata, masyarakat pekerja negara (yang katanya) maju memiliki hari libur lebih banyak daripada masyarakat pekerja tanah air. Begitu juga para pelajarnya. Mereka dalam satu tahun minimal mempunyai jatah cuti 25 hari. Ya, hampir satu bulan. Bandingkan dengan bangsa kita yang para pekerja nya hanya mempunyai waktu libur 12 hari. Dua kali lipat kawan. Belum lagi jatah waktu liburan musim panas, sehingga wisatawan bule akan terlihat lebih banyak di waktu-waktu summer ini (sekitar Juli-Agustus).

Masalah waktu ini menjadi pertanyaan saya. Apakah orang Indonesia memang sedemikian giatnya untuk mendedikasikan jiwa raga mereka untuk bekerja dan belajar formal? Apakah ini merupakan kebijakan sistem ataukah keinginan masyarakatnya sendiri?

Apapun alasannya, dengan waktu belajar dan bekerja kita yang jauh melampaui negara-negara maju, seharusnya negara kita akan lebih maju dan masyarakat kita akan lebih cerdas dan bahagia dibandingkan negara mereka. Namun sestelah bertahun-tahun sistem ini berjalan, tak juga bangsa Indonesia ini menyusul peradaban negara maju. Yang bisa kita banggakan hanya tersisa nilai-nilai dan kearifan lokal.

Lalu yang kedua, masalah uang atau dana. Dalam kegiatan melancong, tidak boleh dipungkiri dana merupakan masalah utama. Terkecuali mereka para petualang into the wild yang mendedikasikan diri mereka untuk perjalanan, pasti ada saja jalan untuk tetap hidup. Namun mereka yang hanya ingin berlibur (ini mayoritas alasan para pelancong) dan akan segera kembali ke tempat asal mereka, uang akan menjadi beban pikiran.



Perbedaan jumlah dan peminat kegiatan travelling bangsa kita dan bangsa bule “maju” tersebut, ternyata adalah pendapatan. Memang, jika dibandingkan dengan harga kebutuhan pokok di masing-masing negara akan sebanding dengan pendapatan gaji di masing-masing negara tersebut. Secara kurs, gaji orang indonesia rata-rata dibawah gaji orang eropa namun harga kebutuhan pokok disini lebih murah. Dan gaji orang eropa akan lebih besar dibandingkan gaji orang Indonesia tetapi harga kebutuhan pokok juga lebih mahal.

Menurut saudara saya yang tinggal di Paris, biaya hidup disana 4 kali biaya hidup di Indonesia. Bahkan kenalan saya dari Hamburg, Jerman, “Living cost in Indonesia can be 10 times cheaper than our country”. Sepuluh kali lipat. Hal ini tidak akan menjadi masalah jika kita hanya menjalankan kehidupan di negara masing-masing. Namun akan menjadi masalah jika pendapatan gaji ini akan digunakan untuk kegiatan jalan-jalan, ke luar negeri khususnya.

Ketika travelling ke luar negeri, ongkos perjalanan yang biasanya menjadi pos dana paling tinggi, akan menganut kurs International, biasanya US Dollar. Otomatis, biaya perjalanan ke luar negeri bagi bangsa eropa akan terasa lebih murah jika dibandingkan dengan bangsa kita. Kita dapat ambil contoh, jika perbandingan kasar gaji di Indonesia dengan Perancis adalah 1:4, maka biaya perjalanan bagi orang Indonesia adalah 4 kali biaya perjalanan orang Perancis. Misal gaji rata-rata di Indoneisa 3 juta rupiah, sedangkan perbandingan dengan Pernacis 1:4, maka dapat dikatakan gaji rata-rata orang Perancis adalah 12 juta rupiah. Jelaslah ongkos perjalanan yang misalkan berjumlah 20 juta rupiah pulang pergi, dapat mereka tutup dengan gaji selama 2 bulan. Sedangkan kita harus menunggu 5 bulan.

Apalagi jika dikaitkan dengan biaya hidup negara tujuan, kita sebagai orang Indonesia ketika datang ke Eropa pasti akan merasa biaya hidup lebih mahal. Sedangkan mereka orang Eropa yang datang ke Indonesia pasti akan berkata: “Wow, semua barang disini murah ya!!”
 

Mungkin itu, yang terus membayang-bayang di benak saya. “It`s all about currency”.

 

Kesimpulan pribadi saya, orang Indonesia yang memang gemar dan terus melakukan perjalanan ke luar negeri dengan dana pribadi, lebih hebat dari para traveller negara maju. Karena perjuangan dan pengorbanan para traveller negeri kita lebih banyak dari traveller negara maju. Pelancong bule? Biasa saja. Pelancong Indonesia? Hebat sekali..


Tuesday, February 25, 2014

Cintaku Desaku, Buleut 22 Februari 2014

Untuk apa sekolah jika akhirnya kembali lagi ke kebun dan ladang?

 Okeeee, kembali komunitas “buleut” mengadakan event bulanan. Kali ini acara diadakan di PAUD Kasih Ibu, Cigupakan, Kec Cilengkrang, Kab Bandung pada tanggal 22 Februari 2014. Tema yang kami usung kali ini adalah “Cintaku Desaku”. Tema ini menurut kami sangat pas dengan lokasi PAUD yang berada di daerah pedesaan dan dilaksanakan di bulan yang “katanya” adalah bulan kasih sayang.




Sekitar 2 minggu sebelumnya beberapa kakak-kakak buleut sudah melakukan penjajakan ke tempat ini. Awalnya, salah satu kakak buleut sekilas melihat PAUD berukuran pos ronda ketika sedang survey lapangan mengenai tugas kampusnya. Beberapa kakak pun akhirnya berangkat mencari PAUD tersebut dengan hanya bermodalkan ingatan. Tanpa nama PAUD ataupun nama jalan dan lokasi. Malahan yang kami temukan adalah sebuah air terjun di kaki gunung manglayang yang dinamakan “Curug Cilengkrang”. Apa daya, karena belum menemukan kami mengunjungi tempat tersebut lebih dulu. Setelah mengobrol dengan panjang lebar dengan petugas Perhutani dan seorang penggiat alam terbuka yang sedang akan melakukan program penanaman pohon di wilayah tersebut, didapatlah informasi tidak jauh dari sana terdapat PAUD “Mini” di dekat sana, meskipun PAUD tersebut tidak sesuai dengan PAUD yang awalnya kami tuju.

Kami pun melenggang dengan elok mencari PAUD tersebut, dan akhirnya menemukannya. Bangunan PAUD tersebut ternyata menyatu dengan balai RW yang memang berukuran mungil. Karena Mentari telah di puncak ubun-ubun jelaslah tidak ada lagi kegiatan di PAUD tersebut sehingga kami bertanya pada warga setempat dimana tempat kediaman pengurusnya. Kami pun diantarkan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari PAUD tersebut dan disambut dengan seorang ibu bersuamikan aparat penegak hukum yang ternyata salah seorang guru di PAUD itu.

Beberapa saat bercengkrama, ternyata ibu ini amat “nyeleneh” dan terus membuat kami terbahak-bahak dengan cerita dan sentilan-sentilannya. Dari beliau pun kami dapatkan cerita bahwa rakyat di daerah ini tidak begitu antusias dengan pendidikan. “Untuk apa sekolah jika akhirnya kembali lagi ke kebun dan ladang?” katanya mengutip ucapan warga sekitar. Bahkan melalui ceritanya, ternyata setelah lulus SD, mayoritas anak perempuan di desa ini langsung di nikahkan. Selain itu, ternyata PAUD yang awalnya mempunyai sekitar 30an murid, akhirnya banyak yang tidak lagi bersekolah perlahan-lahan dengan berbagai alasan sehingga hanya bersisa sekitar 7-8 orang. “Di minta bayaran 10 ribu per satu bulan pun, orang tua murid banyak yang tidak menyanggupinya”.

Kembali ke hari Sabtu, 22 Februari, kami berkumpul di gerbang jalan Cilengjrang 1 pukul 7 pagi sebelum langsung bertolak ke PAUD Kasih Ibu. Barang dan properti serta “printilan” kami kali ini tidak begitu merepotkan karena sebagian barang telah di drop di lokasi dua hari sebelumnya, teria kasih kepada persiapan kami yang cukup matang. Sesampainya disana, ternyata sudah ada 4 bocah berseragam yang ternyata telah menunggu kami. Persiapan pun kami lakukan. Memasang spanduk, persiapan permainan dan lain-lain sambil menunggu kakak-kakak lain yang agak terlambat.



 Kegiatan ini dimeriahkan oleh tamu spesial dari Jerman, Sascha dan Caro, begitu panggilan kedua orang yang kalau tidak salah berumur 25 tahunan ini. Sebentar mengobrol, ternyata mereka adalah caron guru di negara mereka yang sedang praktek mengajar di Kota Tasikmalaya. Kebetulan mereka tadinya akan mengajar kuliah umum di universitas di bandung namun entah mengapa digagalkan sepihak oleh pihak kampus.

Pukul 08.00 acara dimulai setelah banyak anak-anak yang berduyun-duyun datang ke lapangan di depan rumah Ibu polisi. Akhirnya terkumpul sekitar 20-30 an anak, tidak hanya siswa PAUD yang mengikuti kegiatan hari ini dan banyak diantara mereka didampingi ibu mereka, maklumlah karena usia mereka pun hampir semuanya dibawah 7 tahun. Kegiatan pertama yaitu perkenalan dengan menggunakan bola. Bola dilemparkan satu anak ke anak yang lain oleh temannya. Yang mendapatkan bola, harus memperkenalkan diri dan menyebut namanya, tidak terkecuali kakak-kakak buleut nya juga. Lucu melihat anak-anak manis ini masih banyak yang malu-malu memperkenalkan diri mereka sementara beberapa kali kami semua tergelak ketika anak yang dengan canggungnya berusaha menangkap bola tapi tidak berhasil menuntaskan misinya.

Setelah perkenalan, acara dilanjutkan dengan permainan Pohon dan Tupai. 2 anak merentangkan tangan mereka berhadapan sebagai pohon dan satu orang anak bagai berlindung dibawahnya sebagai tupai. Kakak yang memandu permainan menceritakan sebuah kisah, ketika tersebut kata 'pemburu' semua anak “tupai” harus mencari tempat berlindung di bawah pohon tetapi tidak boleh di pohon yang sama ketika mereka terakhir berlindung, yang tidak dapat pohon harus rela ditangkap pemburu. Tidak lupa kakak-kakak buleut bun ikut serta dalam permainan ini.

Setelah itu dimulailah permainan tikus dan kucing. Semuanya membentuk lingkaran dan dipilih beberapa anak untuk menjadi tikus dan kucing. Kucing mengejar tikus keluar masuk lingkaran yang bisa ditutup dan dibuka. Tidak lupa pula diantara permainan-permainan ini diselipkan nyanyian dan tarian yang kami semua lakukan dengan gembira. Ah, gelak tawa anak-anak pada saat itu terlihat indah, sorot mata yang penuh ketulusan dan kejujuran mereka menghibur semua kakak-kakak yang hadir. Menghibur mereka yang telah dengan tatapan-tatapan “semu” yang mungkin banayak mereka jumpai di perkotaan tempat mereka tinggal.



Permainan lapangan selesai, anak-anak dipindahkan ke pelataran rumah ibu polisi untuk beristirahat dan menikmati minuman serta cemilan yang telah kami siapkan. Sebagian kakak yang lain menyiapkan kegiatan selanjutnya. Gelapnya awan menjegal sang mentari yang meredup perkasanya. Gelaplah langit yang seperti tak tahan ingin tumpahkan airnya. Para kakak-kakak dibantu dengan guru PAUD kasih ibu bersiaga dengan menyiapkan bangunan PAUD jikalau hujan memang turun. Titik-titik hujan akhirnya turun perlahan, anak-anak pun digembala menuju bangunan PAUD yang difungsikan juga sebagai balai RW. Meskipun jalan menuju PAUD terjal menanjak, tetap senyum anak-anak itu tak pudar dengan nyanyian yang mereka nyanyikan sepanjang jalan.


Hujan benar-benar turun, syukurlah anak-anak sudah ada di dalam PAUD. Mereka memulai kegiatan berkarya dan belajar mereka. Sebagian menghias tong sampah dengan berbagai warna cat, yang lain ada yang melipat kertas, bermain puzzle, dan membuat prakarya lain dengan semua kakak-kakak mendampingi kelompok-kelompok kecil mereka. Kali ini raut serius tergambar di wajah anak-anak dengan guratan kebahagiaan. Semua belajar dan berkarya dengan penuh antusisasme sehingga kakak-kakak buleut pun dengan semangat mendampingi dan mengarahkan mereka. Sekitar 1 jam 30 menit, kagiatan pun selesai. Terlihat hasil karya mereka yang beragam, meskipun tidak seindah hasil karya seniman, namun semangat dan ketulusan mereka yang merupakan nilai utama dari hasal karya mereka.


Matahari kembali menyembul, rangkaian acara sudah berada di penghujung.


Sebelum menutup acara, kami pun menyerahkan piagam kepada guru PAUD tersebut, tidak lupa juga kami sumbangkan sejumlah meja lipat, buku cerita anak, tamborin kecil, dan juga mainan anak. Ucapan terima kasih pun disampaikan secara tulus oleh guru PAUD tersebut. Keluar bangunan PAUD, tak lupa kami semua berfoto dengan anak-anak yang telah mengikuti kegiatan kami hari ini. Anak-anak pun akhirnya berpamitan dan menyalami para kakak-kakak dengan senyum ataupun tawa di wajah mereka.


Acara telah selesai dan kami pun diundang untuk makan siang “ngaliwet” bersama di rumah ibu guru polisi. Gelak tawa, obrolan ringan dan diskusi mengenai kegiatan hari ini menemani makan siang kami. Setelah itu, kami pun berpamitan, tidak lupa Sascha dan Caro dibekali buah jeruk bali dan nangka untuk perjalanan mereka kembali mengajar di Tasikmalaya. Kami semua pun akhirnya bertolak meninggalkan PAUD Kasih Ibu Cigupakan menuju tujuannya masing-masing.



Adik-adik, terima kasih telah mengikuti kegiatan kami. Meski hanya satu hari, kalian telah memberi kami kebahagiaan dalam berbagi, berkarya, bermain. Sampai jumpa lagi ketika kalian telah menjadi pemuda-pemuda tangguh kebanggaan Indonesia.


Tuesday, July 23, 2013

Rakyatku Yang Mungkin Agak Munafik

              


    Negeriku amat sangat kaya raya. Tanahnya, udaranya, airnya, semuanya nyaris sempurna. Namun kami tidak dapat dibilang makmur sejahtera. Rakyat negeriku pun sering menyalahkan pemerintah dan para pemimpin atas derita dan ketidaknyamanan yang kami rasakan.

Dan memang rakyat tidak salah juga, karena rakyat negeriku telah dikorbankan untuk penebalan dompet wakil-wakil mereka. Namun sepertinya rakyat juga bisa disalahkan atas beberapa ketidaknyamanan karena akibat ulah rakyat negeriku sendiri.


Ø  Kemacetan

Banyak dijumpai di kota-kota besar, ketika jalanan macet, orang malah seenaknya menyusul dengan segala cara. Menyusul dari trotoar, menyusul lewat jalur arah berlawanan, menyusul lewat jalan darurat, dan lain-lain.

Sebenernya jalanan akan lebih lancar jika ketika jalanan dalam keadaan macet tidak ada yang susul menyusul, semua mengantri dengan sabar. Karena jika susul menyusul ketika macet, apalagi lewat jalur trotoar atau jalur trotoar, akan menghambat banyak kendaraan ketika yang menyusul akan kembali ke jalurnya. Apalagi jika menyusul lewat jalur yang berlawanan dan ada kendaraan dari arah berlawanan terhalangi jalannya, akan menyebabkan jalur kedua arah enjadi macet.

Jadi rakyat di negeriku ini, hanya mengutuk macet. “Sialan!! Macet!!”, padahal mereka berperan besar dalam membuat kemacetannya. Penjahat yang munafik memang.

Para pelaku kejahatan lalu lintas ini padahal banyak yang terdapat dari kalangan terpelajar, mngkin sedikit terlihat dari kendaraan pribadi yang dibawanya. Tapi apakah mereka tidak bisa berpikir? Tidak sampaikah nalarnya bahwa perbuatan mereka bukan siolusi mengatasi macet? Hanya mementingkan diri sendiri yang cepat sampai, tidak peduli orang lain mengalami macet yang makin menjadi karena dirinya?
Tidak hanya para wakil rakyat yang mementingkan diri sendiri ternyata, rakyatnya pun sama saja.


Ø  Banjir

Mengeluhlah orang-orang dengan keadaan kota mereka yang sering mengalami bajir. Padahal penyebab banjir itu ya mereka sendiri. Pembuangan limbah dan sampah rumah tangga yang sembarangan yang mungkin diteruskan ke aliran sungai adalah perbuatan bodoh namun sering dilakukan rakyat negeriku.

Contoh konkrit. Di Bandung, daerah dayeuhkolot dan baleendah sering terjadi banjir parah yang sampai menenggelamkan rumah mesti tidak seluruhnya. Disana ada pemandangan unik, di pinggir sungai dekat pemukiman warga yang kompleknya masih berdampingan dengan salah satu kampus ternama di bandung, ada tempat sampah dari semen besar yang nampaknya digunakan warga untuk tempat pembuangan sementara (TPS). Lucunya, bagian belakang tempat sampah itu yang menghadap ke sungai, dibiarkan bolong tanpa penghalang. Jadi terlihat sampah-sampah yang menyangkut di bantaran sungai yang berasal dari tempat sampah besar tersebut. Ternyata jika bak sampah sudah penuh, sampahnya akan dibuang dan dialirkan ke sungai. Hebat ya? Kenapa tidak sekalian saja buang ke sungai?

Rakyat Negeriku memang penjahat alam


Ø  Penumpukan Sampah

Hal ini masih terkait dengan poin sebelumnya. Ini banyak juga terjadi di kota-kota besar maupun kecil. Sering terlihat tumpukan sampah di tengah pemukiman pada bantaran jalannya. Meski sudah diberikan tulisan dilarang membuang sampah, tetap saja sampah di tempat-tempat tersebut berubah komposisinya setiap hari.

Rakyat Negeriku berperan lagi. Mereka membuang sampah seenak jidatnya. Dimana ada tempat kosong tak berpenghuni, disitulah sampah bisa dibuang. “daripada menuhin bak sampah sendiri?” kata mereka membela diri.

Pengendara mobil pun sama, mereka membuang makanan dan minuman yang dikonsumsi di dalam kendaraan ke luar jendela. Tidak bisa dipungkiri, ini dapat terlihat dimana-mana.

Di pasar, para pedagang dan pembeli membuang sampah disekitar mereka (ini memang parah) sembari mereka berkegiatan dan bertransaksi di sekitar sampah yang mereka buang sendiri.

Di masjid besar. Di pelatarannya banyak puntung rokok dan plastik –platik bekas makanan. Apalagi ketika bulan ramadhan tiba.

Ya, seluruh wilayah negeri ini adalah tempat sampaaahh..


Ø  Dana pemerintah tidak transparan

Hal ini banyak dikeluhkan masyarakat padahal tidak jarang yang mengambil dan mencoceng dana pemerintah itu ya warga lokal juga.

Sebagai contoh, ketika dana pembangunan sebuah desa akan dikucurkan ke masyarakat untuk pembangunan infrastruktur (setelah dipotong oleh bupati, camat, lura, dsb tentunya..), warga setempat telah memutar otak untuk mendapatkan penghasilan dari dana negara itu.

Karena mereka yang punya wilayah, mereka bisa saja memilih cara pengadaan barang. Harga bisa mereka naikkan dari harga normal di proposal, volume dan jumlah barang tidak sesuai. Apalagi dari kualitas, karena biasanya warga lokal sendiri yang mengerjakan, maka kualitas bisa dikurangi untuk mengurangi biaya infrastruktur sehingga akan terdapat dana lebihan untuk kantong prinadi masing-masing.

Korupsi memang sudah mengakar samapai ke rakyat kecil.


Ø  Angkutan umum yang buruk kualitasnya

Banyak yang mengeluhkan buruknya kualitas  dan kebersihan angkutan umum di negeriku. Padahal, para penumpang memang bagai tidak beradab berperilaku di dalam angkutan umumnya sendiri.

Banyak coretan-coretan di kendaraan umum yang menunjukkan eksistensi penumpang-penumpang terdahulu.

Tak jarang orang membuang makanan dan minuman ke lantai bis dan angkot sehingga membuatnya berkarat. Fasilitas angkutan umum seperti terminal dan halte pun sama nasibnya, kotor dan penuh coretan.

Dan mereka hanya menyalahkan pemerintah tanpa melihat dirinya sendiri.




Yah, masih banyak sebenarnya contoh lain, namun jika dipaparkan lebih panjang hanya akan membuat sedih akan keadaan negeriku ini. Harapan nya mungkin adanya kesadaran masyrakat sendiri serta munculnya pemimpin tegas yang hatinya memang berniat untuk mengabdi pada rakyat negeriku. Namun menunggukah hal yang hanya bisa kita lakukan? Nampaknya.....



Monday, July 15, 2013

Ramadhan di Negeriku



                Ketika bulan ramadhan sebagai bulan suci umat muslim datang, tentu ada suka dan ada pula duka yang dirasakan oleh para penyambutnya. Suka cita karena di bulan ini seluruh amal dilipatgandakan, dan duka bagi sebagian untuk menahan lapar dan haus. Nah disamping semua itu, bayak hal-hal unik yang terjadi dinegeriku ini ketika bulan puasa datang.




·         Harga Barang naik terutama harga bahan makanan

sindonews.com
Menurut saya ini terbilang unik, kenapa bahan makanan selalu naik menjelang puasa tanpa adanya intervensi penanggulangan dari pemerintah? padahal setiap tahunnya terjadi hal yang sama..

Disatu sisi, penyebabnya yaitu saat semestinya umat muslim menahan hawa nafsu duniawi, ternyata di bulan suci ini para rakyat negeriku bermewah-mewah dalam menjalaninya.

Yang tidak biasa makan daging memaksakan diri dan keluarga untuk makan daging, sehingga permintaan akan daging melonjak dan harga pun naik. Bahkan yang biasa makan sedikit ataupun sederhana juga bermewah-mewah dengan hidangan di rumah masing-masing di bulan ramadhan ini.

Kenapa oh kenapa? Haruskah bulan yang penuh berkah ini dijalani dengan memaksakan bermewah-mewah? Haruskah? Atau apakah hal ini merupakan salah satu ibadah???

Mungkin semetinya harga bahan-bahan malah turun di bulan ramadhan karena para penikmatnya menahan hawa nafsu yang mungkin tak terbendung di bulan-bulan lainnya. Namun yang terjadi...


·         Banyaknya razia kendaraan bermotor

http://m.news.viva.co.id
Dijalan raya pun unik, menjelang dan ketika menjalani bulan ramadhan, entah mengapa aparat polisi sepertinya lebih sering mengadakan operasi razia kendaraan bermotor. Tidak tahu apakah yang di razia itu kendaraan tak beridentitas ataupun kendaraan tidak lengkap (biasalah, pasti ada saja kesalahan para pengendara kendaraan bermotor).


Ini saya merasakan dan mengalami. Apalagi ketika saya sedang bersepeda motor lalu melihat seragam coklat khas kepolisian, hati ini langsung tidak nyaman. Ada perasaan tidak aman meskipun kendaraan saya lengkap, stnk dan sim pun sebenarnya lengkap. Aneh, saya merasa tidak terlindungi dan terayomi ketika melihat aparat negara yang ini. Apalagi dikarenakan kuantitas razia yang bertambah di bulan ramadhan, saya makin sering meihat baju coklat, dan makin sering pula terlintas rasa tak aman dalam dada.

Mungkin memang maksud penambahan operasi ini untuk mengamankan keadaan karena kriminalitas meningkat. Tapi tetap saja ada oknum bahkan rombongan oknum yang mencari THR tambahan, dan itu tidak bisa dipungkiri.


·         Acara Tv saat sahur yang serupa

Hal ini juga saya rasakan aneh, di saat sahur terkadang suasana amat hening ketika sedang sendirian. Agar agak meriah, tentu sesekali saya hidupkan TV untuk mencari hiburan ataupun tambahan pengetahuan. Namun yang saya dapat hanya acara lawak yang sama dari satu stasiun tv ke stasiun tv lainnya.

Format acaranya pun sama, para pelawak yang sudah malang meintang di jagat entertainment televisi Indonesia pasti hadir di saat sahur. Ditemani satu atau dua artis wanita cantik, bahkan biasanya ada seorang wanita cantik bohay berdiri diam dibelakangnya (saya tidak mengerti, hanya sebagai pajangan pemaniskah?). Para penonton yang sering tertawa dan berteriak “HAAAAA...”. Lalu pasti ada kuis bagi bagi rejeki melaui telepon dengan pertanyaan-pertanyaan yang jujur saya katakan tidak bermutu. Ditambah ketika menelpon harus menyebutkan “password” yang telah disusupi pesan sponsor dengan bumbu candaan dari pembawa acara.

Sebenarnya tidak salah dengan hal ini, tapi knapa stasin tv besar hampir seragam menanyangkannya? Memang pasti terkait masalah rating, namun jika terus-terusan begini setiap tahun, bagi saya ini adalah pembodohan. Kasarnya seperti ini: rakyat menjadi senang dengan hiburan dan acara dangkal karena hal itu didukung oleh media negeri ini sendiri. Saya dan juga rakyat lainnya menjadi tidak punya pilihan.

·         Masjid yang penuh dengan orang tidur

http://foto.news.viva.co.id
Tidak banyak yang bisa saya katakan dan protes tentang hal ini. Tentu tenaga dan stamina akan berkurang ketika berpuasa sehingga membutuhkan isirahat ekstra.


Yang saya pertanyakan adalah banyak yang tidur di saat siang hari-hari bulan ramadhan berdalih bahwa tidurnya itu berpahala. Saya masih ragu, benarkah demikian? Karena saya pernah mendengar bahwa hadits seperti itu tidak shahih.

Masak iya, hanya dengan tidur kita dapat pahala? Bukankah lebih baik mengerjakan amalan-amalan yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain? Bukankah itu jelas-jelas ada pahalanya?

Yang saya dapat dari esensi tidur di siang hari di bulan ramadhan yaitu daripada melakukan maksiat dan hal-hal yang mengurangi bahkan membatalkan puasa, memang lebih baik tidur. Karena ketika tidur kita tidak akan berbuat dosa. Namun mengapa jadi diterjemahkan bahwa tidur siang ketika puasa itu berpahala?


·         Melapang dan menyempitnya masjid saat shalat tarawih

Femomena lainnya di bulan ramadhan, saat tanggal-tanggal awal ramadhan masjid saat tarawih penuh sekali, sampai ada yang ikut shalat tarawih dari luar bangunan, luar biasa niat ibadah kaum musli di negeriku.


Namun seiring berjalannya waktu, makin hari pasti makin sedikit jemaat shalat tarawih, yang tadinya berebut masuk ke bangunan masjid, akhirnya telat datang pun dapat dengan leluasa masuk ke barisan tengah syaf di dalam bangunan masjid.

Kenapa ya? Apakah di awal-awal bulan ramadhan rakyat negeriku ikut terpukau oleh euforia datangnya bulan suci namun di tengah dan di akhir bulannya sudah merasa biasa saja dengan bulan ini? Atau mungkin makin sibuk dengan banyaknya undangan berbuka puasa bareng atau persiapan mudik lebaran?

Hmm, semangat di awal lalu loyo malas dan lemas di tengah sampai akhir. Daya juangnya?


·         Aksi penutupan rumah makan dengan paksa oleh ormas

http://daerah.sindonews.com/
Ini juga “tradisi” aneh menurut saya. Di berita banyak disebutkan adanya penutupan rumah makan yang buka di siang hari di bulan puasa oleh suatu ormas secara paksa. Ormas – ormas ini berdalih bahwa mereka melakukan ini untuk menjaga kekhusyukan ibadah puasa.

Dalam opini  saya, sepertinya tidak perlu penutupan paksa seperti itu. Umat muslim yang benar taat dan ikhlas puasanya tidak akan tergoda untuk membatalkan puasanya hanya karena ada rumah makan yang buka. Toh warung makan juga banyak yang membuat restoran atau lapaknya agak tertutup dengan kain, tirai, atau semacamnya untuk menghormati yang sedang menjalani ibadah puasa.



Apapun, Selamat Beribadah Puasa

www.islamski-centar.org 


Saturday, June 29, 2013

7 Summit Merbabu, 6 - 8 Juni 2013




Tertanggal 5 juni 2013. Berangkatlah ke gunung merbabu. Gunung inu terletak d wilayah jawa tengah dan berdekatan dengan kota boyolali dan salatiga.
Uniknya, gunung merbabu dikenal mempunyai 7 puncak utama, atau biasa disebut seven summit merbabu. Mungkin juka belum berkesempatan menggapai 7 summit sebenernya yang merupakan tujuh puncak dunia di masing - benua, dapat menjajal dulu 7 summit di merbabu ini. Toh setelah turun akan sama - sama mempunyai julukan 7 summiters. Hehe..
Untuk menuju puncak gunung ini dapat dicapai dari Jalu wekas (magelang), selo (boyolali), dan kopeng (salatiga).
Pada kesempatan ini pendakian dimulai dari jalur kopeng dan turun di jalur selo yang berhadapan langsung dengan gunung merapi.
Transportasi ke kawasan wisata kopeng dari bandung dapat ditempuh dengan menggunakan bus jurusan semarang dengan kisaran harga 80-100 rbu rupiah (saya merasa ditipu karena naik bis po bhinneka dgn jurusan semarang ac seharga 120 ribu dan dioper ke bis bobrok tanpa ac di terminal kota tegal, padahal pulang dari solo dgn po rajawali ac hanya seharga 95 ribu tanpa oper-oper bis). Setelah itu dilanjutkan ke kota salatiga dengan ongkos 10 ribu rupiah untuk turun di pasar sapi salatiga dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Di pasar sapi ini terdapat pasar tradisional sehinga para penjelajah dapat berbelanja logistik perbekalan dsini.
Wilayah Kopeng
Setelah dari pasar sapi melanjutkab menuju kawasan kopeng dengan minibus (kalau tidak salah 5 ribu rupiah) selama kurang lebih 30 menit. Setelah sampai di kawasan kopeng, kita dapat turun di arah desa thekelan atau cuntel karena kedua desa tersebut mempunyai jalur pendakian. Kali ini pendakian dimulai dari desa thekelan setelah sewa ojek 10 ribu selama sekitar 30 menit untuk menghemat tenaga.


Di basecamp thekelan dapat beristirahat dan menanyakan informasi sekitar perjalanan lewat jalur kopeng thekelan ini. Selain itu pengunjung diwajibkan membayar administrasi sebesar 4 ribu rupiah per orangnya.
Basecamp Thekelan

6 Juni 2013
16.00 - 17.00 : memulai perjalanan dari basecamp menuju pos 1 (Pending) dengan jarak sekitar 1200 meter. Di pos satu ini terdapat sumber air melimpah dan shelter tembok sehingga sangat pas untuk bermalam karena pendakian kali ini dimulai terlalu sore..
Camp 1
Di pos ini akan sangat indah pemandangan city light kota salatiga.
Sumber Air Camp 1 dengan latar kota salatiga
7 juni 2013, 
08.30-09.30: Karena terlambat bangun, pendakian baru dilanjutkan jam setengah 9 menuju pos 2 yang berjarak kurang lebih 1000 meter. Jalur yang dilewati masih agak rapat hampir sama dengan perjalanan ke pos 1. Setelah sekitar satu jam perjalanan, akan ditemukan pos 2 (Pereng Putih). Di pos ini terdapat pula shelter permanen seperti di pos 1, namun tidak terlihat keberadaan sumber air.
Camp 2
 
Setelah istirahat sekitar 15 – 30 menit, perjalanan dilanjutkan dari pos 2. Nah, dari sini tidak ada lagi penanda pos 3 (Gumuk Menthul) dan pos 4 (Lempong Sampan). Berhubung baru pertama kali mendaki merbabu, 2 dataran yang agak luas diperkirakan sebagai pos 3 dan 4. Menurut info jarak dari pos 2 ke pos 3 hanya 30 menit dengan jarak 575 meter. Dan dari pos 3 menuju pos 4 dapat dilewati sekitar 1 jam dengan jarak 785 meter. Dari pos 2 sampai pos 4 ini medan yang dilalui masih relatif terjal dengan kemiringan kira – kira 300.




Puncak 1 Watu Gubug
Setelah dari pos 4, perjalanan dilanjutan ke puncak pertama (Watu Gubug). Jalur yang ditempuh relatif curam dan menguras tenaga, apalagi hujan turun sehingga membuat jalan tanah menjadi licin, webbing akan sangat membantu untuk melalui jalur ini. Setelah sekitar satu jam lebih dan menempuh jarak 724 meter, sampailah di Watu gubug. Inilah gerbang pertama 7 summit merbabu. Penulis sampai di pos ini pada pukul 13.00 dengan kodisi gerimis dan berkabut. Sayangnya, vandalisme telah merajalela di pos ini. Banyak tulisan – tulisan yang ingin menunjukkan eksistensi oleh para pendaki di bebatuan besar pos ini.

  
Perjalanan ke Watu Tulis
Perjalanan dilanjutkan ke puncak 2 (Watu Tulis). Nah, medan yang dilalui sangat menguras tenaga dan juga mental. Jarak yang akan ditempuh yaitu 435 meter dengan waktu normal 35 menit







Pemandangan dari Watu Tulis
Sampai lewat tengah hari pukul 13.55, sampailah di pos pemancar atau puncak ke 2. Disebut puncak pemancar karena ada bangunan tower BTS disini beserta shelter permanennya. Di sini terdapat tanah datar yang dapat dijadikan tempat berkemah beberapa tenda. Di dalam shelter tower pemancar tidak disarankan berkemah karena kondisinya yang kotor dan tidak nyaman. Istirahat, memasak, dan bakar tembakau dilakukan disini.
 
Setelah istirahat lama lebih dari 1 jam, perjalanan dilanjutkan menuju puncak 3 geger sapi dengan jalur menurun dan menghemat tenaga. Lama perjalanan sekitar 15 menit. Disebut geger sapi karena puncakannya seperti punggng sapi dengam sisi sebelah kiri dan kanan tebing jurang.
Puncak 3 Geger Sapi
Turun kebawah lagi akan menemukan lembahan yang dapat dipakai tempat berkemah. Setelah dari lokasi ini menanjak ke beberapa saat sampai dataran yang yang disebut sebagai helipad karena berupa puncakan yang menyerupai tempat pendaratan helikopter.
Dari helipad ini menanjak scrambling medan bebatuan sekitar 30 menit sampai menemukan dataran lagi yang penulis pakai sebagai tempat bermalam lagi. Disini pemandangan sangat indah karena dapat terlihat puncak pemancar dan geger sapi dengan jelas, bahkan ketika malam hari terlihat city light dan cahaya senter para pendaki yang melakukan perjalanan malam turun dari puncak pemancar. Malam yang cerah pun tertampak ribuan bintang karena tempat ini amat terbuka. Hanya hawa dingin ekstra kekurangannya karena jika mendirikan tenda tidak ada yang menghalanginya dari tiupan angin.
 


8 Juni 2013
Puncak 4 Syarif
Pagi hari, sekitar pukul 08.00 Perjalanan dilanjutkan menuju puncak 4, puncak syarif. Cukup ikuti jalur yang banyak menanjak sampai menemukan pertigaan jalur dengan vegetasi ilalang. Ambil jalan ke kiri ke arah puncak syarif. Cukup waktu selama sekitar 20 menit dari pertigaan menuju puncak syarif.

Pertigaan

Konon ada seorang pelarian pada jaman penjajahan yang bernama syarif bersembunyi dari pengejaran di puncak ini.

Setelah puas menikmati puncak syarif yang relatif luas dan dapat dipakai tempat berkemah namun kurang terlindungi dari terpaan angin, berjalanlah kembali ke arah pertigaan dan lewati jalur yang lain menuju puncak 5 ondo rante.




Menuju Puncak 5 Ondo Rante
Menuju ondo rante jalur yang dilewati naik turun namun lebih banyak tanjakannya. Banyak medan berbatu dan ilalang serta pemandangan sabana yang membentang.
  Ikuti saja jalur yang ada sampai menemukan cabang jalan. Ke kiri jalan melipir datar, sedangkan ke kanan jalan menanjak terjal berbatu ke arah puncak 5 ondo rante. Nah, di percabangan ini ada baiknya tidak membawa ransel karena jika turun dari ujung yang lainnya sangat terjal dan berbahaya, butuh koordinasi penuh tubuh untuk menjaga keseimbangan. Penulis sudah sampai di puncak 5 ini sekitar pukul 9 pagi karena jarak tempuh dari puncak 4 hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit. Setelah turun dari puncak 5 ini, kembali ke percabangan untuk mengambil ransel lalu perjalanan dilanjutkan melalui jalan melipir. Kondisi di wilayah ini penuh dengan rerumputan dan pohon bunga edellweiss di tebing-tebingnya, sangat indah. 



Sekitaran Ondo Rante

Menuju Kenteng Songo
Beberapa saat sebelum sampai di puncak 6 (Kenteng Songo) atau puncak tertinggi gunung merbabu, para pendaki dihadapkan pada jalur yang relatif sulit untuk dilalui. Berhubung baru hujan, maka jalur tanah yang ada sulit didaki dan rerumputan yang dapat dijadikan tumpuan pegangan sudah goyah karena telah banyak dipakai oleh pandaki lain yang baru saja melewatinya.
Sampai di puncak Kenteng Songo setelah berjalan lebih dari 30 menit, pemandangan sangat indah dan banyak yang bisa dinikmati jika cuaca sedang cerah. Puncak ini berupa dataran yang dapat dipakai tempat berkemah beberapa tenda. Disini terdapat batu aneh yang berlubang seperti dipahat dengan sangat sempurna berjumlah 9 buah. Menurut cerita setempat, dulunya tempat ini adalah sebuah istana. Selain itu, puncak 7 (Triangulasi) dapat terlihat dari sini.




Puncak 6 Kenteng Songo
 
Puncak 7 Triangulasi
Dari Kenteng Songo perjalanan dilanjutkan ke puncak terakhir (yeey), yaitu puncak triangulasi yang berjarak kurang dari 100 meter. Penulis sampai di puncak ini pada sekitar pukul 10. Sayangnya, kondisi berkabut dan disusul dengan hujan yang mengharuskan segera turun.


 

Setelah menikmatu 7 summit merbabu. Turunlah melewati jalur selo. Ambil jalur terjal menurun dari puncak 7 ini. Medan yang dilalui amat menurun sehingga jika memungkinkan para pendaki dapat berlari menuruninya. Pemandangan sangat indah karena terdapat padang rumput (sabana) yang amat luas. Di area ini, medan yang dilalui berbukit – bukit naik turun. Setelah sekitar 1 jam 30 menit, sampailah di pos sabana II. Pos ini berada di tengah sabana sehingga sepertinya akan sangat nikmat jika bermalam disini.






Perjalanan dilanjutkan ke pos sabana 1 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam jika berjalan santai. Pos ini masih berupa padang rumput sabana dengan tempat mendirikan tenda yang luas. Pemandangannya pun tidak kalah dengan pos sabana II. Apalagi gunung merapi dapat dinikmati pemandangannya dari sini.
Pukul 13.30 perjalanan pulang dilanjutkan. Medan selanjutnya masih perbukitan yang relatif datar. Disarankan memperhatiakan jalur karena banyak cabang jalur yang sepertinya dibuat oleh penduduk setempat. Setelah melewati perbukitan, kondisi medan mulai curam menurun dengan vegetasi yang rapat.

Merapi dari Selo
 
Pukul 15.30, akhirnya sampai juga di pintu gerbang pos pendakian selo. Dekat dari gerbang ini terdapat basecamp yang dapat dipakai beristirahat bahkan menginap. Disini dijual pula souvenir gunung merbabu dan makanan serta minuman.
Basecamp Selo

Berhubung sudah tidak ada kendaraan lagi untuk menuju cepogo. Penulis memutuskan untuk bermalam sehari lagi di basecamp ini. Sebenarnya bisa saja mencarter kendaraan lewat si empunya basecamp (Kalau tidak salah carter menuju jogja biayanya sekitar 300ribu atau 350 ribu setelah ada pendaki yang memaksa ingin pulang). Suasana di basecamp ini terasa hangat karena banyak pendaki yang mampir sebelum memulai pendakian ataupun hendak pulang.
Pasar Cepogo
Pagi hari tanggal 9 juni nya sekitar pukul 6.30 penulis berjalan kaki meninggalkan desa selo karena belum terlihat ada angkutan yang datang. Untungnya di tengah perjalanan ada mobil pick up agak kosong sehingga dapat menebeng sampai jalan raya. Di jalan raya pun ternyata belum menemukan kendaraan umum sehingga berjalan dulu ke arah pasar cepogo dan di tengah jalan ada mobil pick-up lagi yang kami tumpangi kembali. Sampai di pasar cepogo cari angkutan menuju boyolali dengan ongkos 4000 rupiah (kalau tidak salah). Di terminal boyolali dapat langsung menuju bandung atau jakarta dengan ongkos yang variatif.
Merapi dari Selo