Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

Showing posts with label Angga. Show all posts
Showing posts with label Angga. Show all posts

Saturday, June 29, 2013

7 Summit Merbabu, 6 - 8 Juni 2013




Tertanggal 5 juni 2013. Berangkatlah ke gunung merbabu. Gunung inu terletak d wilayah jawa tengah dan berdekatan dengan kota boyolali dan salatiga.
Uniknya, gunung merbabu dikenal mempunyai 7 puncak utama, atau biasa disebut seven summit merbabu. Mungkin juka belum berkesempatan menggapai 7 summit sebenernya yang merupakan tujuh puncak dunia di masing - benua, dapat menjajal dulu 7 summit di merbabu ini. Toh setelah turun akan sama - sama mempunyai julukan 7 summiters. Hehe..
Untuk menuju puncak gunung ini dapat dicapai dari Jalu wekas (magelang), selo (boyolali), dan kopeng (salatiga).
Pada kesempatan ini pendakian dimulai dari jalur kopeng dan turun di jalur selo yang berhadapan langsung dengan gunung merapi.
Transportasi ke kawasan wisata kopeng dari bandung dapat ditempuh dengan menggunakan bus jurusan semarang dengan kisaran harga 80-100 rbu rupiah (saya merasa ditipu karena naik bis po bhinneka dgn jurusan semarang ac seharga 120 ribu dan dioper ke bis bobrok tanpa ac di terminal kota tegal, padahal pulang dari solo dgn po rajawali ac hanya seharga 95 ribu tanpa oper-oper bis). Setelah itu dilanjutkan ke kota salatiga dengan ongkos 10 ribu rupiah untuk turun di pasar sapi salatiga dengan lama perjalanan sekitar 1 jam. Di pasar sapi ini terdapat pasar tradisional sehinga para penjelajah dapat berbelanja logistik perbekalan dsini.
Wilayah Kopeng
Setelah dari pasar sapi melanjutkab menuju kawasan kopeng dengan minibus (kalau tidak salah 5 ribu rupiah) selama kurang lebih 30 menit. Setelah sampai di kawasan kopeng, kita dapat turun di arah desa thekelan atau cuntel karena kedua desa tersebut mempunyai jalur pendakian. Kali ini pendakian dimulai dari desa thekelan setelah sewa ojek 10 ribu selama sekitar 30 menit untuk menghemat tenaga.


Di basecamp thekelan dapat beristirahat dan menanyakan informasi sekitar perjalanan lewat jalur kopeng thekelan ini. Selain itu pengunjung diwajibkan membayar administrasi sebesar 4 ribu rupiah per orangnya.
Basecamp Thekelan

6 Juni 2013
16.00 - 17.00 : memulai perjalanan dari basecamp menuju pos 1 (Pending) dengan jarak sekitar 1200 meter. Di pos satu ini terdapat sumber air melimpah dan shelter tembok sehingga sangat pas untuk bermalam karena pendakian kali ini dimulai terlalu sore..
Camp 1
Di pos ini akan sangat indah pemandangan city light kota salatiga.
Sumber Air Camp 1 dengan latar kota salatiga
7 juni 2013, 
08.30-09.30: Karena terlambat bangun, pendakian baru dilanjutkan jam setengah 9 menuju pos 2 yang berjarak kurang lebih 1000 meter. Jalur yang dilewati masih agak rapat hampir sama dengan perjalanan ke pos 1. Setelah sekitar satu jam perjalanan, akan ditemukan pos 2 (Pereng Putih). Di pos ini terdapat pula shelter permanen seperti di pos 1, namun tidak terlihat keberadaan sumber air.
Camp 2
 
Setelah istirahat sekitar 15 – 30 menit, perjalanan dilanjutkan dari pos 2. Nah, dari sini tidak ada lagi penanda pos 3 (Gumuk Menthul) dan pos 4 (Lempong Sampan). Berhubung baru pertama kali mendaki merbabu, 2 dataran yang agak luas diperkirakan sebagai pos 3 dan 4. Menurut info jarak dari pos 2 ke pos 3 hanya 30 menit dengan jarak 575 meter. Dan dari pos 3 menuju pos 4 dapat dilewati sekitar 1 jam dengan jarak 785 meter. Dari pos 2 sampai pos 4 ini medan yang dilalui masih relatif terjal dengan kemiringan kira – kira 300.




Puncak 1 Watu Gubug
Setelah dari pos 4, perjalanan dilanjutan ke puncak pertama (Watu Gubug). Jalur yang ditempuh relatif curam dan menguras tenaga, apalagi hujan turun sehingga membuat jalan tanah menjadi licin, webbing akan sangat membantu untuk melalui jalur ini. Setelah sekitar satu jam lebih dan menempuh jarak 724 meter, sampailah di Watu gubug. Inilah gerbang pertama 7 summit merbabu. Penulis sampai di pos ini pada pukul 13.00 dengan kodisi gerimis dan berkabut. Sayangnya, vandalisme telah merajalela di pos ini. Banyak tulisan – tulisan yang ingin menunjukkan eksistensi oleh para pendaki di bebatuan besar pos ini.

  
Perjalanan ke Watu Tulis
Perjalanan dilanjutkan ke puncak 2 (Watu Tulis). Nah, medan yang dilalui sangat menguras tenaga dan juga mental. Jarak yang akan ditempuh yaitu 435 meter dengan waktu normal 35 menit







Pemandangan dari Watu Tulis
Sampai lewat tengah hari pukul 13.55, sampailah di pos pemancar atau puncak ke 2. Disebut puncak pemancar karena ada bangunan tower BTS disini beserta shelter permanennya. Di sini terdapat tanah datar yang dapat dijadikan tempat berkemah beberapa tenda. Di dalam shelter tower pemancar tidak disarankan berkemah karena kondisinya yang kotor dan tidak nyaman. Istirahat, memasak, dan bakar tembakau dilakukan disini.
 
Setelah istirahat lama lebih dari 1 jam, perjalanan dilanjutkan menuju puncak 3 geger sapi dengan jalur menurun dan menghemat tenaga. Lama perjalanan sekitar 15 menit. Disebut geger sapi karena puncakannya seperti punggng sapi dengam sisi sebelah kiri dan kanan tebing jurang.
Puncak 3 Geger Sapi
Turun kebawah lagi akan menemukan lembahan yang dapat dipakai tempat berkemah. Setelah dari lokasi ini menanjak ke beberapa saat sampai dataran yang yang disebut sebagai helipad karena berupa puncakan yang menyerupai tempat pendaratan helikopter.
Dari helipad ini menanjak scrambling medan bebatuan sekitar 30 menit sampai menemukan dataran lagi yang penulis pakai sebagai tempat bermalam lagi. Disini pemandangan sangat indah karena dapat terlihat puncak pemancar dan geger sapi dengan jelas, bahkan ketika malam hari terlihat city light dan cahaya senter para pendaki yang melakukan perjalanan malam turun dari puncak pemancar. Malam yang cerah pun tertampak ribuan bintang karena tempat ini amat terbuka. Hanya hawa dingin ekstra kekurangannya karena jika mendirikan tenda tidak ada yang menghalanginya dari tiupan angin.
 


8 Juni 2013
Puncak 4 Syarif
Pagi hari, sekitar pukul 08.00 Perjalanan dilanjutkan menuju puncak 4, puncak syarif. Cukup ikuti jalur yang banyak menanjak sampai menemukan pertigaan jalur dengan vegetasi ilalang. Ambil jalan ke kiri ke arah puncak syarif. Cukup waktu selama sekitar 20 menit dari pertigaan menuju puncak syarif.

Pertigaan

Konon ada seorang pelarian pada jaman penjajahan yang bernama syarif bersembunyi dari pengejaran di puncak ini.

Setelah puas menikmati puncak syarif yang relatif luas dan dapat dipakai tempat berkemah namun kurang terlindungi dari terpaan angin, berjalanlah kembali ke arah pertigaan dan lewati jalur yang lain menuju puncak 5 ondo rante.




Menuju Puncak 5 Ondo Rante
Menuju ondo rante jalur yang dilewati naik turun namun lebih banyak tanjakannya. Banyak medan berbatu dan ilalang serta pemandangan sabana yang membentang.
  Ikuti saja jalur yang ada sampai menemukan cabang jalan. Ke kiri jalan melipir datar, sedangkan ke kanan jalan menanjak terjal berbatu ke arah puncak 5 ondo rante. Nah, di percabangan ini ada baiknya tidak membawa ransel karena jika turun dari ujung yang lainnya sangat terjal dan berbahaya, butuh koordinasi penuh tubuh untuk menjaga keseimbangan. Penulis sudah sampai di puncak 5 ini sekitar pukul 9 pagi karena jarak tempuh dari puncak 4 hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit. Setelah turun dari puncak 5 ini, kembali ke percabangan untuk mengambil ransel lalu perjalanan dilanjutkan melalui jalan melipir. Kondisi di wilayah ini penuh dengan rerumputan dan pohon bunga edellweiss di tebing-tebingnya, sangat indah. 



Sekitaran Ondo Rante

Menuju Kenteng Songo
Beberapa saat sebelum sampai di puncak 6 (Kenteng Songo) atau puncak tertinggi gunung merbabu, para pendaki dihadapkan pada jalur yang relatif sulit untuk dilalui. Berhubung baru hujan, maka jalur tanah yang ada sulit didaki dan rerumputan yang dapat dijadikan tumpuan pegangan sudah goyah karena telah banyak dipakai oleh pandaki lain yang baru saja melewatinya.
Sampai di puncak Kenteng Songo setelah berjalan lebih dari 30 menit, pemandangan sangat indah dan banyak yang bisa dinikmati jika cuaca sedang cerah. Puncak ini berupa dataran yang dapat dipakai tempat berkemah beberapa tenda. Disini terdapat batu aneh yang berlubang seperti dipahat dengan sangat sempurna berjumlah 9 buah. Menurut cerita setempat, dulunya tempat ini adalah sebuah istana. Selain itu, puncak 7 (Triangulasi) dapat terlihat dari sini.




Puncak 6 Kenteng Songo
 
Puncak 7 Triangulasi
Dari Kenteng Songo perjalanan dilanjutkan ke puncak terakhir (yeey), yaitu puncak triangulasi yang berjarak kurang dari 100 meter. Penulis sampai di puncak ini pada sekitar pukul 10. Sayangnya, kondisi berkabut dan disusul dengan hujan yang mengharuskan segera turun.


 

Setelah menikmatu 7 summit merbabu. Turunlah melewati jalur selo. Ambil jalur terjal menurun dari puncak 7 ini. Medan yang dilalui amat menurun sehingga jika memungkinkan para pendaki dapat berlari menuruninya. Pemandangan sangat indah karena terdapat padang rumput (sabana) yang amat luas. Di area ini, medan yang dilalui berbukit – bukit naik turun. Setelah sekitar 1 jam 30 menit, sampailah di pos sabana II. Pos ini berada di tengah sabana sehingga sepertinya akan sangat nikmat jika bermalam disini.






Perjalanan dilanjutkan ke pos sabana 1 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam jika berjalan santai. Pos ini masih berupa padang rumput sabana dengan tempat mendirikan tenda yang luas. Pemandangannya pun tidak kalah dengan pos sabana II. Apalagi gunung merapi dapat dinikmati pemandangannya dari sini.
Pukul 13.30 perjalanan pulang dilanjutkan. Medan selanjutnya masih perbukitan yang relatif datar. Disarankan memperhatiakan jalur karena banyak cabang jalur yang sepertinya dibuat oleh penduduk setempat. Setelah melewati perbukitan, kondisi medan mulai curam menurun dengan vegetasi yang rapat.

Merapi dari Selo
 
Pukul 15.30, akhirnya sampai juga di pintu gerbang pos pendakian selo. Dekat dari gerbang ini terdapat basecamp yang dapat dipakai beristirahat bahkan menginap. Disini dijual pula souvenir gunung merbabu dan makanan serta minuman.
Basecamp Selo

Berhubung sudah tidak ada kendaraan lagi untuk menuju cepogo. Penulis memutuskan untuk bermalam sehari lagi di basecamp ini. Sebenarnya bisa saja mencarter kendaraan lewat si empunya basecamp (Kalau tidak salah carter menuju jogja biayanya sekitar 300ribu atau 350 ribu setelah ada pendaki yang memaksa ingin pulang). Suasana di basecamp ini terasa hangat karena banyak pendaki yang mampir sebelum memulai pendakian ataupun hendak pulang.
Pasar Cepogo
Pagi hari tanggal 9 juni nya sekitar pukul 6.30 penulis berjalan kaki meninggalkan desa selo karena belum terlihat ada angkutan yang datang. Untungnya di tengah perjalanan ada mobil pick up agak kosong sehingga dapat menebeng sampai jalan raya. Di jalan raya pun ternyata belum menemukan kendaraan umum sehingga berjalan dulu ke arah pasar cepogo dan di tengah jalan ada mobil pick-up lagi yang kami tumpangi kembali. Sampai di pasar cepogo cari angkutan menuju boyolali dengan ongkos 4000 rupiah (kalau tidak salah). Di terminal boyolali dapat langsung menuju bandung atau jakarta dengan ongkos yang variatif.
Merapi dari Selo


Tuesday, February 5, 2013

Hap Hap, Tangkap Bintangmu, 19 Januari 2013


                Tertanggal 19 Januari 2013 pukul 13.00, Buleut tak kenal lelah membuat kegiatan lagi. Kali ini acara diadakan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan tema “Hap Hap Tangkap Bintangmu”. Sesuai dengan tema, kali ini kakak – kakak buleut berbagi kepada anak – anak tentang arti sebuah cita-cita.

                Pada hari yang ditentukan, kami berkumpul pada pukul 09.00 untuk mempersiapkan acara dan briefing teknis. Sesuai tradisi dan budaya Indonesia, tentu saja yang datang tepat waktu hanya beberapa orang saja, sisanya datang dengan polosnya 1 atau 2 jam dari waktu yang ditentukan. Persiapan – persiapan kecil dilakukan di pelataran masjid Al-furqon UPI.

                Pukul 13.00, 3 orang dari kami berangkat menjemput anak-anak yang sudah menunggu di kawasan Cipaku. Nah, anak – anak terdiri dari bermacam latar belakang. Ada yang bersekolah, ada yang bekerja sebagai pemulung sampah, dan lain – lain. Ketika tim penjemput tiba, hanya terlihat beberapa anak yang menunggu, mungkin hanya berkisar 5-6 orang anak saja. Tidak kecewa, kakak tim penjemput berinisiatif mendatangi rumah satu persatu dan memanggil bala bantuan kakak-kakak lain untuk membujuk dan merayu. Setelah diketahui, ternyata orang tua anak-anak tersebut khawatir melepas anak mereka untuk bermain ke luar daerah tempat tinggal mereka karena baru saja sekitar seminggu terjadi penculikan anak di daerah tempat tinggal mereka.

                Setelah sekitar satu jam, setelah meminta ijin orang tua satu persatu, setelah membujuk dan merayu. Akhirnya terkumpul sekitar 30 orang anak untuk kami ajak bermain, belajar, dan berbagi. Sayangnya, koordinasi dengan pihak UPI kurang berjalan mulus sehingga lokasi acara di rubah ke SD Cidadap II yang berlokasi masih di kawasan Cipaku karena Ijin sudah diberikan oleh penjaga dan kepala sekolah yang baik hati. Dan akhirnya kami rugi ongkos carter angkot yang hanya menempuh jarak sekitar 500 meter.
                Acara tertunda sampai sekitar pukul 14.00, namun tak patah semangat kami meski sempat ada anak yang pulang menangis karena hasil memulungnya belum memenuhi target dan akhirnya di minta pulang oleh ayahnya.
Acara dimulai dengan perkenalan dan perminan pertama di lapangan sekolah yang berjudul musang-musangan. Berhubung teknis permainan sulit dijelaskan, jadi untuk penjelasan permainan kami lewat dulu. Jika masih penasaran silakan hubungi kakak-kakak uleut terdekat.

Suasana mulai menghangat dengan keceriaan dan tawa bocah-bocah itu sehingga dilanjutkan dengan permainan kedua, panjang-panjangan. Karena mudah dijelaskan, akan kami paparkan teknis permainannya. Semua anak dibagi 3 kelompok, tiap kelompok berbaris masing-masing dalam  satu garis lurus. Diujungnya terdapat gambar pelangi yang harus diraih oleh salah satu kelompok. Tiap kelompok anak-anak menggunakan seluruh benda yang melekat ditubuhnya untuk memanjangkan barisan mereka tanpa terputus antara teman sendiri, bagai mata rantai yang panjang. Banyak yang terjatuh dan terseret sehingga akhirnya menangis dan dihibur oleh para kakak.

Setelah berterik-terik ria. Istirahat dilakukan untuk beriabadah dan bercemilan. Kakak-kakak pun briefingan lagi sebentar dan menyatakan bahwa kami puas setelah memfasilitasi permainan yang mendidik untuk bekerja sama dan berusaha sekuat mungkin untuk menggapai cita-cita yang luhur, tak peduli setinggi apa..
Setelah beristirahat acara dilanjutkan dengan bernyanyi dan menari di dalam kelas yang sudah kami pinjam. Kakak-kakak menyanyi dan menari dengan tidak indahnya untuk merangsang para anak-anak untuk mengikuti dan berceria bersama. Nyanyian dan tarian diselingi pembagian cemilan lagi dan segelas susu untuk anak-anak. Suasana tambah ceria dan mengharu ketika salah seorang kakak meniupkan balon-balonan sabun yang sangat banyak dalam ruangan kelas sehingga kami menari dan bernyanyi di antara riuhnya balon sabun yang ceria ikut menghibur kami dalam diamnya.

Acara dilanjutkan dengan berkarya dengan tema cita-cita. Kami menyediakan karton spons yang sangat besar berbentuk awan sebagai media yang digambar dan ditulisi oleh setiap anak tentang cita-cita mereka. Terlukislah seorang guru, tentara, polisi, designer, dan lain-lain. Setap anak ditanya mengapa mereka bercita-cita seperti itu dan mereka menjawab dengan berbagai jawaban mulia mereka, ketika salah seorang anak perempuan ditanya kenapa ingin menjadi tentara wanita, dia menjawab “Supaya tidak diremehkan para laki-laki”. Duh, gagahnya. Selain itu, salah seorang bocah laki-laki ditanya mengapa ingin menjadi polisi dan dijawab “Karena ayah saya bercita-cita ingin menjadi polisi”. Hahaha, asal tidak menjadi tukang tilang saja.

Kembali ke lapangan SD, penghujung acara sudah dekat. Setelah berfoto-foto, para kakak-kakak memperkenalkan diri lagi sembari menjelaskan cita-cita mereka kepada para anak-anak dengan maksud mereka mempunyai alternatif cita-cita lain, karena dunia tidak sempit dan tak hanya putih abu.

Selesailah acara pada sekitar pukul 17.30, beberapa orang tua sudah menunggu di depan SD menanti anak mereka. Mungkin khawatir kami akan menculik anak-anak mereka. Sebagian anak – anak kami antar kembali ke rumah masing-masing dan berpamitan pada para orang tua. Setelah itu, dilanjutkan ke evaluasi acara para kakak-kakak sampai sekitar menjelang maghrib.

                Selesai semua acara. selesai usaha kami hari ini menyampaikan betapa agungnya sebuah cita-cita. selesai kami berkata bahwa impian dapat diraih dengan usaha dan kerja sama, apa pun impian itu.

Friday, December 28, 2012

Untuk Kalian Kawan di Kampus Biru

Rangkaian bunga, pelukan hangat, senyum dan tawa, serta dangdut keliling..


Yayaya, di 26 maret itu kami berbalut kemeja jas dan kebaya, pukul 07.30 berkumpul di lapangan futsal butut di depan gedung serba guna kampus dan mengenakan toga. Briefing dari panitia wisuda telah terucap, jangan mengipas-ngipas topi toga di dalam gedung, hanya itu yang saya ingat..

Tak cukup 4 tahun kami bermain bersama. Sehingga akhirnya kami 'kompakan' untuk memperpanjang waktu bermain selama satu semester. Bukan karena bodoh dan telat lulus, kami hanya mencari momen tinggalkan kampus dengan orang-orang terdekat, orang-orang setongkrongan, orang-orang se tim sepakbola, orang-orang teman mengulang kuliah, atau lebih gampangnya sebut saja orang-orang t*l*l.

Aah, sambutan-sambutan yang terasa lama tidak lagi menjemukan, karena gedung itu penuh dengan senyum dan canda dari orang-orang kepanasan yang menghiraukan arahan untuk tidak mengipaskan topi toga. Satu persatu kami dipanggil untuk penyerahan 'ijazah kosong' dan jabatan tangan petinggi kampus. Kawanan t*l*l yang dipanggil tidak ada yang maju dengan 'normal'. Foto-foto di layar yang aneh (bersama boyband, berpenampilan preman, dll), lompat ke panggung, dadah-dadah ke wisudawan di atas panggung, dan hal tak lazim lainnya.

Semua wisudawan telah menerima 'ijazah kosong' nya. Para cum laude dipanggil maju untuk memberi setangkai bunga pada orang tuanya di dalam gedung, suasana agak mengharukan.. Salah satu dari kami yang belum sempat cum laude ikut berdiri, ikut menghampiri orangtuanya, tidak dengan bunga, tapi dengan kue-kue dalam kotak untuk snack wisudawan. Suasana haru agak sedikit goyah dengan gelak tawa. Namun tidak dengan sang ibu 'oknum kue' itu yang tetap menitikkan airmata. Entah bangga akan anaknya yang tidak cum laude namun berani berdiri di tengah 'orang-orang pintar', ataukah malu dengan tingkah buah hatinya.

Janji wisuda diucapkan, kawanan t*l*l malah masuk ke toilet gedung dan membakar beberapa batang rokok sehingga tidak ikut mengucap janji lulusan. setelah beberapa hisapan nikotin, dosen ada yang datang, memarahi kami untuk kembali ke tempat duduk. Kami yang sudah terbiasa didaprat dosen hanya tertawa, "Udah lulus masih aja dimarahin dosen, bego lo.",ucap kami pada sesama.

Semua wisudawan keluar gedung, arak-arakan masing-masing unit dimulai. Sebagian langsung bersama keluarga dan sebagian lagi diarak keliling kampus oleh para juniornya. Rangkain bunga-bunga dari kawan, lawan, pacar, mantan, junior, senior banyak tertenggam di tangan kami para kawanan wisudawan t*l*l.

Setelah arak-arakan dan berfoto bersama keluarga, kami para wisudawan t*l*l kembali ke pinggir lapangan futsal. Disana telah tersedia dangdut gerobak keliling yang sengaja kami sewa beberapa hari lalu untuk memeriahkan hari bahagia kami, untuk membuat kami berbeda dari yang lain, untuk berucap pada dunia "kami memang selengean tapi kami lulus dan akan lebih sukses dari kalian".

Dangdutan berjalan meriah, biduan montok itu menyanyikan berbagai tembang meski agak malu-malu diiringi teman organ tunggalnya disebelah gerobak sound system mereka. Para wisudawan lain datang dan ikut berjoged bersama, para junior yang sekedar lewat memandang aneh kami sambil tertawa. Yah, memang dangduttan keliling setelah prosesi wisuda bukan hal yang normal di kampus kami.

Yah, dangdutan menutup acara kami. Satu persatu kawanan t*l*l meninggalkan 'venue' acara dan sebagian lagi melanjutkan acara dengan ber haha-hehe di kantin kampus untuk beberapa waktu dan kemudian akhirnya pulang ke rumah dan keluarga masing-masing.

Dan ternyata akhir studi kuliah kami ditutup dengan DANGDUT KELILING..

Sampai jumpa di lain waktu kawan. Kelak jika kita bertemu kita masih akan setolol dulu. Dan jika diantara kami tiba-tiba terkenang dan rindu akan semua ini, kami akan angkat telpon dan hubungi kami-kami yang lain.

Ngantin nyok..


*Foto dari dana, tessa, eci, dll.. Thx




Saturday, July 21, 2012

Buleut, 15 Juli 2012

"ada tukang sosis di sebelah kita yang suka resek"

Yak, tertanggal 15 Juli 2012 berpukul 05.30 bertempat Car Free Day Dago Bandung, kawan-kawan "Budak Leutik" berikrar akan bertemu dengan kegiatan acara promosi komunitas dan 'warming up' menuju Hari Anak Nasional (23 Juli) dan sebuah acara yang akan dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan bersama komunitas Pensil Kertas.

Sebenarnya tidak sampai satu minggu alokasi waktu yang direncanakan untuk menyiapkan lapak dan printilan-printilan di acara promosi ini. Hanya koordinasi lapak car free day, serta properti permainan tradisional dan alat tulis dan white board dan kertas warna dan gunting dan kamera dan lain sebagainya (Pokoknya printilan lah). Tidak sulit memang, namun pikiran agak terfokuskan dengan printilan yang memang rawan terlupakan. Printilan memang hebat bisa memasuki alam bawah sadar kami. Pokoknya... hidup Printilan.

H-beberapa hari, kami sudah berkoordinasi untuk lapak acara promosi ke komunitas pensil kertas yang notabene sudah lama melanglangbuana di jagat Car Free Day. Pada acara CFD terakhir, tim survey kami yang memang sudah berniat mencari lapak, menemukan komunitas pensil kertas yang sedang berkegiatan dengan lapak cukup besar di depan pintu masuk rumah sakit Boromeus. Nah, basa-basi pun dilakukan untuk memuluskan niat nebeng lapak kami. 

Follow up dilakukan di Markas Besar pensil kertas beberapa hari setelahnya, setelah berkoordinasi tim internal di Monumen Perjuangan Bandung, tim "Buleut" meluncur ke daerah Kircon untuk membicarakan teknis 'penebengan lapak' bersama Pensil Kertas. "Boleh kalo lapaknya mau gabung, lagian Car Free Day bebas kok pake tempatnya, gratis pula, siapa datang pagi dia dapat.. cuman ada tukang sosis di sebelah kita yang suka resek meskipun dia datangnya agak siang." Oke, negosiasi berjalan mulus dan kamipun kembali berkutat ke Printilan.

Di hari pelaksanaan,   kami sudah janjian pukul 05.30, namun apa daya kantuk memang juara satu, sehingga akhirnya kami pun berkumpul dan setting lapak pukul 07.30. Sebenarnya sudah ada satu korban tim buleut yang standby sendiri dari pukuk 06.00 namun apa daya Printilan tidak ada padanya. Jadi hanya menjaga lapak berdua bersama satu orang dari komunitas pensil kertas yang bernasib sama. Sempat ada komunitas lain yang tiba-tiba duduk dan menggelar tikar, namun kami penjaga lapak dengan gagahnya bernegosiasi dengan mereka, semua aman, semua senang. Dan akhirnya semua tim kami berkumpul, mengatur design, layout, dan lain sebagainya.

Stand kami amat meriah. Ada Wall of Fame, permainan congklak, ramal kartu tarot, tempat menggambar, papan tulis komentar, live acoustic music, dan lain sebagainya. Awalnya, peserta CFD hanya melirik-lirik saja stand kami, nampak masih malu-malu. Namun dengan kesegitan kakak-kakak buleut dan pensil kertas kami pun approaching mereka sehingga akhirnya berkunjung dengan hati riang gembira ke lapak kami. Stand pun ramai, ada yang menulis di wall of fame, ada yang bernyanyi riang dengan lagu anak-anak yang hampir punah, ada yang asyik menggambar, ada yang diramal dengan kartu tarot (banyaknya cewek), ada pun yang membeli pin kami dengan harga Rp. 5000++. (++ itu adalah tambahan harga bukan pajak karena keikhlasan pembeli). Semua sibuk dengan air muka cerah yang riang, bapak, ibu, anak, kakak, adik, semua berkegiatan di stand kami.

Untuk keperluan dokumentasi komunitas dan penyambutan hari anak nasional, kami menyediakan beberapa papan white board untuk ditulisi oleh pengunjung lapak yang isinya berupa komentar, harapan, atau apapun untuk anak-anak Indonesia. Komentar pun bermacam-macam sesuai latar belakang para pengunjung. Komunitas epeda dengan banyolannya "Ikuti kata kak seto", Bapak-Ibu senior dengan komentar bijaknya "Terus maju anak-anak Indonesia, kalian harapan kami.", Ibu muda dengan keluhannya "Anak sekarang terlalu banyak main video games", pecinta musik Punk dan penggembala anjing yang sayang komentarnya tidak terdokumentasikan.

Sampai sekitar pukul 09.00 stand masih ramai, malah makin ramai. Anak-anak yang berkunjung ada yang menggambar bersama pensil kertas, ada yang bermain, ada yang menyanyi, ada yang asyik bervandalisme di wall of fame kami. Bapak ibu dan kaum remajanya asyik di ramal dengan kartu tarot dengan wajah heran namun tertarik dan penasaran. 

Di salah satu momen, ada anak-anak yang malu-malu bergabung di lapak kami, hanya melihat dengan wajah penasaran dan terkesan 'jutek'. Nah terpanggilah jiwa jahil kakak-kakak Buleut untuk menggoda anak ini karena awalnya si anak ini terus 'somseu' tidak mau masuk meski sudah dibujuk orangtuanya juga. Tetapi, setelah dengan senyuman, sentuhan, serta candaan dan jahilan akhirnya dia pun main di lapak kami sampai harus dibujuk lagi oleh orangtuanya untuk segera pulang. 

Yah, terlihat kakak-kakak dari Buleut pun menikmati acara, apalagi melihat anak-anak kecil dengan senyum dan tawa serta gerak lincah khasnya, makin senanglah para kakak-kakak.

Oke, untuk penulis artikel ini, waktu sudah habis dan harus menghadiri kegiatan lain di kawah upas gunung tangkuban perahu. Jadi mungkin laporan  dengan sangat menyesal harus terhenti disini.. Padahal acara masih berjalan sekitar kurang lebih satu jam lagi. Namun apa daya, yang penting masalah printilan sudah aman tentram dan senyuman riang anak-anak sudah semakin mewabah.


Angga Adhi Perdana

Sunday, April 22, 2012

Tribute untuk Ayahku


Waktuku kecil ayahku senang menjahiliku dengan mengunci pergelangan tanganku dalam gengamannya. Aku selalu mencoba melepasnya, dari hari ke hari, dan ternyata hanya rengekan yang bisa melepaskannya. Dan ayah hanya akan tersenyum bahkan tertawa setelah melepaskannya. Ayah memang hobi bercanda.
 
http://www.salon.com/2011/06/18/vagabond_father_open2011/
Ketika aku memasuki jenjang sekolah dasar, banyak barang yang aku inginkan, banyak waktu ketika aku harus merengek untuk mendapat sesuatu, Ayah hanya berkata “nanti, dipikirin dulu”. Dan hasilnya, tidak selalu nihil. Ayah tahu apa yang aku butuhkan dan apa yang tidak untukku. Bahkan ketika aku dibelikan sebuah console video game, semput aku berebut dengan ayah untuk memainkannya. Pernah ayah sakit untuk beberapa lama dengan sebab yang tidak dapat diketahui, tidak bisa bekerja dan selalu hadir di tempat tidur dan suatu waktu ayahku shalat dengan sangat – sangat khusyuk, dan alhamdulillah keadaannya membaik, dan kehidupannya dan kami pun membaik, suatu cobaan yang berat telah dilalui... Pernah aku mengambil sejumlah uang dari dompetnya tanpa izin hanya untuk membeli sesuatu yang bodoh, sebongkah es kering untuk dimasukkan ke dalam bak mandi. Ketika ayah mengetahuinya, dia memarahiku sengan keras, dan amarahnya berakhir dengan “kalo mau apa – apa bilang dulu, jangan jadi pembohong”. Ayah memang menakutkan jika sedang marah, tetapi tidak pernah “main tangan”.


Aku masuk SLTP, pulang pergi dengan angkot. Untuk bekal uang sekolah ayah sering memberi lebih, mungkin dia mengetahui bahwa semakin besar umurku, semakin besar kebutuhanku. Bahkan terkadang aku bisa bernegosiasi “gaji harianku” sebagai anak dengan ayah. Ayah mendukung penuh ketika aku terpilih sebagai perwakilan Jambore Nasional, semua kebutuhanku dipehuninya, bahkan saat aku menyerah ayah tak lelah mendukungku meski dengan agak keras. Aku pertama kali berpacaran di masa ini, ayah pernah memarahiku karena tagihan telepon rumah membengkak sangat drastis. Bekerjasama dengan ibu, ayah menjebakku sehingga aku mengaku bahwa penyebab besarnya tagihan telepo adalah seorang wanita pujaanku. Tetapi akhirnya ayah tidak masalah dengan wanitaku, hanya disuruh membatasi komunikasi via teleponku saja. Ayah mengerti aku baru mulai akan mengenal dunia.

Ayahku

Masa SMA, masa paling sering aku berselisih dan bertengkar dengan ayah. Memang tabiatku agak melenceng di saat itu, darah mudaku yang baru bergejolak selalu mendapat tentangan dari ayah. Aku tahu maksud ayah pasti baik, namun entah, aku pada saat itu memang amat bebal. Ayah membelikaknku sepeda motor, dia berkata “biar kamu ga cuman bisa liat temen-temen kamu pake motor”. Kami berdua memodifikasi sepeda motor itu, tidak jelek juga hasilnya.. Aku pertama touring jarak jauh ayah tak melarangku, mungkin dia pun teringat masa mudanya yang penuh lika liku. Tak jarang kami saling tak berbicara untuk beberapa hari, namun ayah hampir selalu mengalah dengan gaya khasnya yang seolah sudah melupakan semua masalah kami disertai senyum ataupun tawa ditengah beberapa amarahnya yang mencekam. Ketika kami berselisih, pasti ibu yang selalu menjadi mediator antara kami, namun tetap aku dan egoku tak mau mengalah, begitupun ayah. Masa – masa penuh perselisihan ini entah bagaimana akhirnya terlewati. Satu hal yang mengherankanku, Ayah punya teman dimana – mana, dari tukang parkir sampai bos – bos perusahaan. Pada hari lebaran pun berpuluh parcell datang ke rumah kami ditujukan kepada ayahku. Salut..


http://discoveringdad.net/discovering-dad-blog-carnival-march-2010/
Akhirnya akupun kuliah. Tahun pertama dan kedua, aku lewati dengan mental yang lebih dewasa sehingga aku jarang berselisih dan bertengkar dengan ayah. Sudah jarang kulihat ayah marah. Aku mulai sering berkegiatan mendaki gunung saat itu, entah bagaimana teman – teman ayah selalu tahu bahwa aku baru saja “turun gunung”. Mungkin ayah selalu bercerita pada mereka, mungkin ayah bercerita sembari membanggakanku kepada teman-temannya, mungkin ayah memang bangga padaku yang melakukan kegiatan positif yang dulu pun dia senang melakukannya. Motor baruku kadang dipakai ayah untuk touring bersama rekan kantornya, aku hanya bisa tersenyum, ‘masih ngoboi juga ternyata ayahku’. Ketika aku mulai ketahuan menghisap rokok pun ayah tiba – tiba selalu membeli dua jenis rokok. Yang sering aku ambil tanpa izin. Tapi tetap ayah selalu menyindirku, tidak membebaskanku menghisap batang rokok. Mungkin ayah mengerti bahwa aku memang telah terjebak rokok seperti dirinya, namun belum bisa ikhlas menerima fakta bahwa anaknya pun ikut merusak diri sendiri.


http://discoveringdad.net/discovering-dad-blog-carnival-april-2010/
Tanggal 28 Juni Tahun 2008 setelah ujian akhir semesterku, ketika aku akan geladi di kota Denpasar, Ayah tiba – tiba sakit entah sakit apa. Setelah berolahraga mengayuh sepeda, ayah mengajakku pergi keluar untuk membetulkan semua alat elektronik yang rusak, namun tiba – tiba ayah terlhat sangat merasa kesakitan di tempat tidurnya, ditemani kami sekeluarga. Aku, Ibu, dan Kedua adik perempuanku awalnya menyangka ayah hanya sakit biasa, namun akhirnya kami pun menyaksikan nafas terakhir ayahku, yang meninggalkan kami menuju pelukan-Nya. Ayahku yang super, telah tiada.


Banyak sekali kerabat ayah bergantian datang ke rumah. Teman – temanku pun datang bergantian setiap hari selama lebih dari seminggu. Ayah dimakamkan di Jakarta, dekat tempat tinggal kakak dan adiknya, satu pemakaman dengan kakek. Pada saat mengantarkan ayah, puluhan mobil berkonvoy dari bandung menuju jakarta. Terlihat bagiku bahwa ayah memberi kenangan positif pada banyak orang, tanpa pandang bulu. Aku ingin seperti ayah, tegas dan keras namun selalu hangat.


My Father
Ayah dimataku serba bisa. Dia bisa mengerjakan semuanya, dari kebun, ledeng, dan mobil pun dia betulkan sendiri. Ayahku yang tak ragu naik ke atas genting untuk membetulkan genting bocor, ayahku yang tak ragu turun membersihkan selokan sendiri sambil menyapa para tetangga di pagi hari. Ayahku yang diceritakan ibu selalu melindungi staff nya di kantor. Ayahku yang sering memengangi turnamen memancing dengan memakai namaku (aku mengetahuinya karena sering diajak). Ayahku yang telah mendidikku sehingga mempunyai mental dan dasar yang kuat. Ayahku yang super dab serba bisa, tidak akan pernah kutemui lagi di dunia ini.


Hari ini, 22 April 2012, tepat 54 tahun sejak ayah menghembuskan nafas pertama. Saat ini, kubayangkan ayah sebentar turun ke bumi untuk menengokku, melihat kedaanku, ibu, dan kedua adikku. Aku melihat hari ini ayah duduk disampingku, menemaniku dan memberi seutas senyum pada diriku yang berlinang air mata ketika aku menulis tulisan ini, meski diam tanpa suara.


Wednesday, April 18, 2012

Tersungging di bibirmu..

Senyumlah kawan, senyumlah meski kau jatuh, senyumlah dikala badaimu tak kunjung dapati mentari, senyumlah meski dalam tangismu.
http://blogmdan.blogspot.com/
Bagiku senyum dan tawa memang tercipta ketika Tuhan menyeimbangkan dunia tak abadi ini dengan setitik aroma surgawi. Mungkin Dia memang membekali makhluknya dengan senyum sebagai senjata rahasia untuk bertahan di alam fana ini. Indahnya, tak hanya kita manusia ang dibekali senyum. Binatang, hewan, bahkan batu dan air serta seluruh alam pun diberi kemampuan untuk tersenyum.

Teringat ketika saya menhadiri dan menyaksikan sebuah rapat pertanggung jawaban suatu periode kepengurusan di sebuah organisasi yang saya ikuti. Setelah para anggota yang dberi tanggung jawab memaparkan hasil kinerja selama periode jabatannya kepada “dewan komisaris”, ternyata laporan mereka ditolak. Kinerja periode mereka dianggap tidak kompeten karena memang banyak program kerja yang indikator keberhasilannya mereka buat sendiri ternyata tidak memenuhi target. Mereka pun mempertanyakan keputusan itu, semua pembelaan dan ganjalan hati dipaparkan namun keputusan pun tak bergeming, namun mayoritas para “terdakwa” telah dapat menerima keputusan itu. Rapat pertanggung jawaban pun ditutup. Dapat ditebak bahwa atmosfer disana akan menjadi tak mengenakkan.

Namun tanpa disangka, setelah palu presidium rapat terpukulkan, mereka yang berjiwa besar mengakui kesalahan mereka, tersirat tak hanya dibibir mereka ucap janji tuk memperindah hari esok, tuk membayar hutang mereka sebagai para pemimpin yang akan terus belajar. Kemudian mereka pun kembali angkat dagu, kembali mereka teriakkan asa, dan kembali mereka tersenyum. Karena mereka tahu, senyum mereka lebih besar daripada sebuah penolakan. Senyum mereka lebih kuat dari tangisan batin mereka. Mereka sadar, mereka akan tetap kuat dengan sebuah senyuman.

http://feministjungle.blogspot.com/
Semua orang kuat akan selalu tersenyum. Sebagai contoh lihat pak Harto, dia dijuluki jenderal seribu senyum. Karena memang dibalik senyumnya itu terdapat kekuatan, sebuah perasaan bahwa tidak akan ada yang dapat menggoyahkannya pada saat itu. Namun, seiring menghilangnya senyumnya, hilang pula secara perlahan kekuatannya hingga akhirnya dia tergulingkan. Al Capone, mafia legendaris itu pun terus memperlihatkan seuntai senyum meski sedang menghadapi hukuman, dia yakin dirinya dengan senyumnya lebih besar dari ancaman hukuman, bahkan mungkin lebih besar dari kematiannya. Lalu, siswa yang telah mempersiapkan diri akan tersenyum melihat soal ujiannya, dia merasa lebih besar, lebih kuat, dan lebih pintar dari soal ujian.

Di sisi lain, orang yang tunjukkan amarah adalah orang yang merasa lemah dan terancam. Contoh terdekat, lihat para pedagang kaki lima yang digusur, sudah hampir pasti mereka marah-marah dan memaki para pihak yang berkuasa. Mengapa? Karena mereka merasa lemah dan terancam. Namun pernah saya menemukan seorang pedagang yang akan tergusur hanya menguntai senyum, lalu saya bertanya mengapa dia tidak ikut menggugat pihak penguasa. "Saya tidak akan kalah hanya oleh keputusan penguasa",  dirinya tidak akan mati hanya oleh penggusuran, dia masih bisa berjualan di tempat lain, bahkan mungkin di tempat barunya nanti dia akan menerima penghasilan yang jauh lebih besar. Dia menunjukkan bahwa dirinya lebih besar dari masalahnya, dia lebih kuat dari sebuah tragedi. Dan dia cerminkan itu hanya dengan seutas senyum.

Bagi saya, senyum memang menunjukkan kekuatan. Tak ada gunanya terus menangis dan memaki, karena kau selalu akan sendirian melakukannya.  Tersenyumlah, mereka pun akan merangkulmu dengan tawa yang sama. Bukankah perasaan ketika tersenyum dan tertawa jauh lebih indah dibanding ketika kita menangis ataupun sedang merasakan amarah?

Bersama korban gempa padang yang masih tegar tersenyum..

Tuesday, October 28, 2008

80 tahun Sumpah Pemuda

28 Okt 2008…


Sumpah Pemuda, pada sebagian bangsa Indonesia sangat bermakna, sebagian pun menyangsikannya. Pada awalnya, untuk apa Kongres Pemuda II diadakan pada 28 Oktober 1928 diadakan? Untuk mempersatukan pemuda Indonesia, untuk membangkitkan semangat pemuda, untuk mengingatkan para generasi sebelumnya, Indonesia belum merdeka, jiwa bangsa kita terkekang, sebagaimana layaknya burung dalam sangkar yang anugerah terindahnya untuk terbang bebas terkunci, terbungkam, hanya untuk memuaskan pemiliknya dengan kicauannya, seperti bangsa kita saat itu yang hanya mampu memuaskan penjajah dan menjadi budak dalam segala arti. Tetapi sang Garuda mencoba bangkit, mencoba keluar dari kekangan teralis kolonialis, melalui Idealisme yang masih kental dari dalam jiwa para pemudanya. Bosan mereka dengan kungkungan penjajah. Mereka percaya, mereke bisa bersatu, mereka bisa melawan, mereka bisa merdeka dan mandiri. Mungkin semangat itu bisa kita kembalika, dengan mengingat bagaimana bangsa kita pada saat itu. Bayangkan, suara-suara yang mendambakan kemerdekaan, teriakan “Merdeka atau Mati” dari radio usang dengan suara speaker seadanya. Pidato bung Tomo, yang jika didengar, dapat mamanggil sesuatu dari kalbu kita.


Bertumpah darah satu, tumpah darah Indonesia.

Ya, kita bangsa Indonesia, disinilah tumpah darah kita, disini mestinya kita teteskan peluh, kobarkan semangat, kucurkan darah, tidak lain hanya demi bangsa kita, Republik Indonesia. Agar maju, agar mandiri, lepas dari penjajahan non-fisik yang kita rasakan saat ini.

Bolehlah, menuntut ilmu formal dan informal di luar negeri, mencari uang di luar negeri. Tapi, baktikanlah semua yang kita dapat untuk bangsa kita yang sekarang sedang merana ini. Bela rakyat kita, ingatkan para pemimpin kita yang sebagian masih bermental terjajah, pelayan bagi bangsa lain. Percikan api nasionalis dalam jiwa mereka, agar harga diri bangsa tidak terinjak-injak lagi.


Bertanah air satu, tanah air Inbdonesia.

Dari sinilah asal muasal kita. Tanah ini harus kita bela, pertahankan dari tangan-tangan keji, yang dengan kejamnya merenggut tanah air kita, baik secara materil dan materil. Ketahuilah, salah satu pantai di tanah air kita, didatangai kapal keruk negara asing. Mereka datangi pantai kita, mereka ambil pasir pantainya, mereka bawa pulang untuk memperluas wilayah pantainya sendiri. Para petinggi Negara kita tahu, tetapi mereka hanya diam saja, tidak berani melawannya, mereka masih merasa bangsa kita bangsa yang inferior, kebanggan sebagai bangsa yang besar terlah tercuri. Tanah air kita sudah tercuri, secara materil maupun non-materil.

Kibarkan semangat bertanah air Indonesia di seluruh sudut negeri. Katakana pada mereka, “Ini tanah air kami, tak akan kami serahkan barang secuil pun apa yang sudah kami dapat melalui perjuangan dan pengorbanan para pendahulu kami, hanya dengan kematian kamilah engkau dapat mengambilnya”.




Berbahasa satu, bahasa Indonesia.

Memang, bahasa kita bukan bahasa dunia. Tetapi mengapa banyak dari kita yang amat bangga dengan bahasa asing melebihi bahasa Indonesia? Sebagai contoh, bahasa Inggris. Judul acara Tv berbahasa Inggris, judul lagu Inggris, judul pagelaran inggris, dan lain sebagainya. Padahal targetnya hanya untuk rakyat Indonesia. Mengapa tidak memakai bahasa Indonesia saja? Apakah tidak keren? Memang bahasa Inggris adalah bahasa dunia. Tapi, malah terlihat berlebihan pemakaiannya. Mana budaya kita?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memelihara budayanya. Dan bahasa adalah salah satu budaya. Tapi, mengapa ada negara yang disebut negara superpower padahal budaya asli mereka sudah hampir punah? Mereka sudah tak punya bahasa lokal setempat, bahkan kalau tidak salah pernah ada pembantaian penduduk asli setempat. Tidak ada lagi seni dan budaya tradisional pada bangsa mereka. Pantaskah mereka disebut bangsa yang besar? Maka, janganlah bangsa kita menjadi seperti itu, menjadi bangsa tanpa akar budaya sendiri. Kalau bisa, kita jadikan Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu dunia. Mampukah kita?


Saya teringat pada saat saya mendaki gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Ketika itu, saya kibarkan bendera Indonesia di puncak sana, saya kibarkan di depan para pendaki lain. Entah mengapa, dada ini tergetar. Saya teringat pada masa sebelum kemerdekaan. Betapa sulitnya mengibarkan merah-putih di langit Indonesia. Mungkin itu hanya secuil rasa cinta tanah air jika dibandingkan dengan rasa cinta tanah air para pejuang. Tetapi, tetap memberi kebanggan pada siri saya.

Saya optimis pada generasi muda sekarang, mereka mempunyai idealisme yang cukup kuat. Begitu juga dengan nasionalisme nya. Terlihat dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan untuk menjaga kelestarian budaya Indonesia, acara-acara untuk memperingati hari-hari penting bangsa melalui berbagai format acara, ada pula pelajar yang ikut menyuarakan keprihatinannya melalui literature, aksi di kampus dan sekolah. Atau sekedar diskusi ringan tentang pembangkitan negara Indonesia.Selain itu, terlihat media pun masih peduli dengan Sumpah Pemuda, baik media cetak, Radio, dan Televisi. Semuanya membahas tentang 80 tahun Sumpah Pemuda, syukurlah

R.A Kartini pernah berkata, kurang lebih seperti ini: “Kami akan terus menggoyah-goyahkan gedung-gedung feodalisme itu. Kami akan merasa hidup kami telah berarti meskipun hanya ada sepotong batu yang runtuh”. Mari kita buat pernyataan lain, “Kami akan terus melindungi dan memajukan bangsa ini. Kami akan merasa hidup kami berarti meskipun hanya berteriak pada dunia :‘Tumpah darah kami satu, tanah air kami satu, bahasa kami satu, Kami adalah bangsa Indonesia’.”.



Putera Indonesia,

Angga